Langsung ke konten utama

YouTube Wajibkan Kreator Transparan soal Konten AI

YouTube Wajibkan Kreator Transparan soal Konten AI

YouTube mewajibkan kreator mengungkapkan penggunaan Artificial Intelligence (AI) pada konten yang dibuat atau dimodifikasi dengan teknologi ini. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga transparansi kepada penonton.

“Kami sudah punya kebijakan yang mewajibkan kreator yang menggunakan AI itu harus mengungkapkan kalau memang kontennya dibuat atau dimodifikasi oleh AI,” kata Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, Rabu di Jakarta.

Menurut Veronica, label AI membantu penonton mengetahui apakah sebuah konten dibuat sepenuhnya oleh kreator atau mendapat bantuan teknologi. Informasi ini memberi konteks sebelum penonton menilai atau menikmati video.

Penggunaan AI sendiri semakin masuk ke berbagai tahapan produksi konten. Teknologi itu dapat dimanfaatkan untuk membuat thumbnail, mencari ide, menyusun script, hingga membantu proses pembuatan video.

Kreator YouTube, Klara Tania, juga mengaku menggunakan Google AI untuk membantu membuat thumbnail.

“Teknologi ini bisa membuat visual lebih menarik, termasuk mengubah objek atau tampilan dalam sebuah gambar,” ujarnya.

Veronica menilai AI seharusnya digunakan untuk memberdayakan kreativitas, bukan menggantikan peran kreator.

“Teknologi tersebut bisa membantu mewujudkan ide yang sebelumnya sulit dibuat dengan kemampuan produksi biasa,” timpal Veronica.

Meski begitu, pemanfaatan teknologi tetap perlu disertai keterbukaan. Ia menekankan, penonton harus mengetahui apakah sebuah video dibuat sepenuhnya oleh kreator atau melibatkan AI dalam proses produksinya.

YouTube juga tetap menerapkan sistem perlindungan hak cipta pada konten yang dibuat dengan AI.

Veronica menegaskan Content ID tetap berlaku untuk membantu melacak konten yang melanggar hak cipta pihak lain.

Menurutnya, kebijakan tersebut bukan berarti YouTube melarang kreator menggunakan AI. Sebaliknya, teknologi itu diposisikan sebagai alat yang mendukung proses kreatif.

“Kreator tidak bisa menutup mata terhadap perkembangan AI. Aku memilih mempelajari teknologi ini agar dapat memanfaatkannya dalam pembuatan konten tanpa meninggalkan karakter karyaku,” Klara menambahkan.

Bagi YouTube, label AI memberikan informasi yang lebih jelas kepada penonton. Transparansi juga membantu menjaga kepercayaan antara kreator dan audiens.

Dengan kebijakan ini, kreator tetap bisa memanfaatkan AI untuk mengembangkan ide dan proses produksi. Namun, penggunaan teknologi itu perlu disampaikan secara terbuka kepada penonton.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HP Kena Air Direndam Beras Justru Berbahaya, Ini Faktanya

HP masa kini memang semakin canggih serta dilengkapi sertifikasi ketahanan air. Namun, bukan berarti air sudah tidak berbahaya bagi perangkat. Saat HP kena air, banyak orang akan langsung mengambil beras. Mengutip How To Geek, Selasa , beras memang berbahan kering dan sangat efektif menyerap cairan mirip seperti kantong silica gel. Meski ada benarnya, metode lama ini justru bisa semakin membahayakan HP kamu karena memiliki beberapa efek samping. Awal Mula Mitos Tersebar Mitos merendam HP yang terkena air ke dalam beras sudah ada sejak dulu bahkan sebelum era smartphone. Metode ini mulai populer di internet sekitar pertengahan 2000-an. Salah satu catatan awal di media umum muncul pada postingan Lifehacker edisi Juni 2007. Saat itu, seorang pembaca mengklaim bahwa beras efektif menyerap kelembapan di sekitar HP. Di tengah kekhawatiran pengguna akan rusaknya HP mahal mereka, metode beras dengan cepat diterima sebagai solusi yang praktis dan murah. Sayangnya, anggapan beras menyelamatkan ...