Langsung ke konten utama

Waspada Modus Deepfake dan Pembobolan Rekening Bank Lewat Rekayasa AI

Waspada Modus Deepfake dan Pembobolan Rekening Bank Lewat Rekayasa AI

Di tengah pesatnya pertumbuhan industri perbankan digital di Indonesia, ancaman kejahatan siber kini memasuki babak baru yang kian kompleks.

Para pelaku fraud mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti deepfake berbasis suara dan video sintetis, hingga teknik rekayasa sosial terkoordinasi untuk mengambil alih rekening dan membobol dana nasabah.

Menjawab tantangan tersebut, Krom Bank menggandeng platform fraud intelligence global, SHIELD, guna memperkuat sistem pertahanan keamanan perbankan digital.

“Seiring dengan semakin canggihnya teknologi fraud berbasis AI yang dihadapi Krom Bank, kami melihat bahwa solusi app hardening statis saja tidak cukup," ujar Co-Founder & CTO Krom Bank, Tan Alie, dalam keterangannya, Rabu .

Meskipun dapat menjaga integritas aplikasi, ia menambahkan, pendekatan tersebut memiliki keterbatasan dalam memberikan visibilitas terhadap aktivitas selama sesi pengguna berlangsung dan dalam mendeteksi ancaman baru yang terus berkembang, seperti deepfake.

Fenomena fraud berbasis AI di Indonesia bahkan telah mengeksploitasi celah psikologis dan teknis secara bersamaan. Penipu acap kali mengkloning aplikasi resmi atau layanan publik populer—seperti Identitas Kependudukan Digital (IKD), lalu menyebarkannya melalui platform pesan instan.

Setelah aplikasi berbahaya terpasang di perangkat korban, pelaku memanfaatkan teknologi AI untuk menyamar sebagai petugas bank atau keluarga, sekaligus mengendalikan akun nasabah secara jarak jauh dan membagikan layar (screen-sharing) tanpa disadari korban.

Selain itu, praktik berbagi akun (account sharing) tanpa izin juga menjadi salah satu celah keamanan yang kian marak terjadi.

Ancaman yang bersifat dinamis ini menuntut perlindungan yang tidak lagi bergantung pada pengamanan statis. Melalui integrasi teknologi Device-First Fraud Intelligence dari SHIELD, Krom Bank kini mengantongi visibilitas real-time (run-time visibility) atas perilaku perangkat nasabah sepanjang sesi aktif—mulai dari proses login hingga logout.

Langkah ini mampu mendeteksi keberadaan tools berbahaya, aplikasi kloningan, hingga rekayasa sosial berbasis AI secara presisi tanpa mengganggu kenyamanan maupun privasi nasabah saat bertransaksi.

Teknologi SHIELD Device ID menjadi fondasi utama dalam sistem ini dengan kemampuan mengidentifikasi perangkat fisik secara unik hingga akurasi lebih dari 99,9 persen, bahkan jika perangkat telah dikembalikan ke setelan pabrik (factory reset).

Langkah responsif ini mencatatkan peningkatan signifikan dalam deteksi dini ancaman siber di Krom Bank, antara lain:

Founder & CEO SHIELD, Justin Lie, menegaskan kejahatan siber modern berkembang secara berkala sepanjang sesi berlangsung dan dirancang agar tidak terdeteksi oleh sistem keamanan konvensional.

"Melalui kolaborasi ini, Krom Bank tidak hanya memperkuat resiliensi sistem pertahanan internalnya dari serangan AI yang kian dinamis, tetapi juga menetapkan standar baru keamanan bagi ekosistem perbankan digital di Indonesia," ia memungkaskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HP Kena Air Direndam Beras Justru Berbahaya, Ini Faktanya

HP masa kini memang semakin canggih serta dilengkapi sertifikasi ketahanan air. Namun, bukan berarti air sudah tidak berbahaya bagi perangkat. Saat HP kena air, banyak orang akan langsung mengambil beras. Mengutip How To Geek, Selasa , beras memang berbahan kering dan sangat efektif menyerap cairan mirip seperti kantong silica gel. Meski ada benarnya, metode lama ini justru bisa semakin membahayakan HP kamu karena memiliki beberapa efek samping. Awal Mula Mitos Tersebar Mitos merendam HP yang terkena air ke dalam beras sudah ada sejak dulu bahkan sebelum era smartphone. Metode ini mulai populer di internet sekitar pertengahan 2000-an. Salah satu catatan awal di media umum muncul pada postingan Lifehacker edisi Juni 2007. Saat itu, seorang pembaca mengklaim bahwa beras efektif menyerap kelembapan di sekitar HP. Di tengah kekhawatiran pengguna akan rusaknya HP mahal mereka, metode beras dengan cepat diterima sebagai solusi yang praktis dan murah. Sayangnya, anggapan beras menyelamatkan ...